28 juni-5juli 2008...
Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah. ,, “(QS Al Baqarah :196)
“.. hendaklah kalian mengerjakan umrah, karena yang demikian itu adalah lebih afdhal”
(H.R.Thirmidzi)
“ (Dari) satu umrah ke umrah yang lain merupakan penebus dosa yang ada diantara keduanya.. ”(Muttafaqun ’Alaih)
Berawal dari perjalanan menuju umrahku, panggilan Rabbku... Hampir 10 jam perjalananku dari bandara Soekarno-Hatta, Jakartamenuju Bandara kota jeddah “King Abdul Aziz” . Pesawat Garuda membawaku dari Jakarta pukul 7.20 WIB dan sampai kurang lebih pukul 13.00 KSA yang seharusnya di Jakarta pukul 17.00 WIB.
Saat melewati imigrasi Arab Saudi, aku harus selalu bersama mahramku, kalo menurutku sih mahrom-mahraman, aku tidak mengerti sebenarnya mengapa hal ini diperbolehkan. Dalam suatu hadits dinyatakan bahwa “ Tidak diperbolehkan bagi wanita muslimah yang beriman kepada Allah dan hari akhir bepergian menempuh perjalanan selama 3 hari atau lebih, melainkan bersamanya ayah, suami atau mahramnya “ (HR.Muslim), namun jika wanita tersebut berusia diatas 45 tahun, maka diperbolehkan untuk melewati imigrasi, dengan kata lain bebas mahram. Jadi aku membeli mahram seharga Rp.150.000,- lewat travel “NRA” yang mengurusi selama aku umrah dan aku dipasangkan dengan seorang bapak-bapak berusia 40 tahunan , dan aku dijadikan sebagai keponakanya. Awalnya aku ragu namun menurut Imam Syafi’i diperbolehkan jika bersama wanita muslimah yang dapat dipercaya.
Jadilah selama melewati imigrasi aku selalu bersama bapak itu, kalo tidak aku tidak boleh keluar bandara, apalagi orang-orang sana terlihat keras dan tegas, apalagi bahasanya pun qt sama-sama tidak mengerti. Alhamdulillah aku dapat keluar dari imigrasi Arab Saudi, kemudian aku lalu diantar oleh bis yang disediakan oleh bandara disana untuk menuju luar bandara, selanjutnya aku diantar oleh bis dari travel yang mengantarkan aq menuju rumah tempat transit di Jeddah yang katanya rumah orang yang mempunyai travell “NRA” yang mengantarkan kami, Subhanallah senangnya memiliki rumah yang dekat dengan tanah haram..
Rumah tersebut kami gunakan untuk mandi ihram, sholat, makan dan berganti pakaian ihram, karena setelah ini qt akan menuju Mekah untuk melakukan umrah. Setelah mandi ihram , kemudian kita melakukan solat sunnah 2 rakaat sebelum umrah. Setelah makan dan sholat qt kemudian naik bis, di bis tersebut kita melakukan miqat ”garis batas” di Jeddahdimana ditempat dan pada waktu tersebut qt sdh berniat untuk umrah, dan mulai saat itu larangan-larangan selama ihram berlaku. Ya Allah aku sedih kenapa sih sebelum umrah aku tidak menambah ilmuku mengenai umrah ini, jadilah aku bingung sendiri dan meraba-raba.. kurang menghayati ibadah ini.. ya Allah maafkan kejahilanku ini...
Selama di bis qt mengagungkan Allah dengan kalimat-kalimat Talbiyah ”Labbaik Allahumma Labbaik”
”Labbaikalaasyariikalakallabbaik”
”Innalhamda, wanni’mata”
”Lakawalmulk, laa syariikalak”
”Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah,,
Aku datang memenuhi panggilan-Mu.. Aku datang memenuhi panggilan-Mu..
Tiada sekutu bagi-Mu..
Aku tetap datang memenuhi panggilan-Mu
Sesungguhnya segala puji, karunia dan kekuasaan hanyalah milik-Mu
Tiada sekutu bagi-Mu“
Ya Allah apakah akupantas sebagai orang yang terpilih memenuhi panggilan-Mu Rabb-ku, betapa banyak aibku yang tertutupi oleh Mu, betapa seringnya aku meremehkan dosa-dosa ku, hari-hariku selalu diisi oleh maksiat kepada-Mu.. Rabbku masih menyayangi aku dengan memberikan aku kesempatan memenuhi panggilanNya.. Aku malu.. betapa banyak orang sholeh yang tulus,amat sangat ingin memenuhi panggilan-Mu Rabb,, tapi Engkau memilih Ku... Rabbku... berkahilah umrahku ini...
Kira-kira 2jam kami tiba di Tanah haram Mekah.. Tanah Mekah dan Madinah merupakan tanah haram, tanah yang haram untuk dimasuki oleh Non-Muslim.. Kota suci dimana Islam tegak di tanah ini. Sebelum tawaf kami menuju hotel terlebih dahulu, Al-Bustan, letaknya kurang lebih 100 m dari Masjidil Haram, Setibanya di hotel qt tidak memiliki waktu banyak karena kita harus segera tawaf di Ka’bah.. Selama umrah qt dibimbing oleh seorang ustadz dari travel kami.. Subhanallah aku memasuki masjidil haram.. dimana solat disini bernilai 100.000 pahala dibandingkan solat dimasjid biasa... Waktu iya telah datang, Kami melakukan sholat isya terlebih dahulu di halaman masjidil haram.. subhanallah lantainya hangat.. Aku membayangkan siang nya yang panas.. sujud syukur kami kepada Mu,Rabb Ku. Atas izin-Mu kami dapat menjumpai ka’bah.. Kami pun melakukan tawaf disana. Setelah tawaf kami melakukan Sai atau berjalan diantara Safa dan Marwah selama 7 putaran, perjalan Safa ke Marwah dihitung 1 putaran, jadi perjalanan kita berakhir di Marwah. Setelah sai qt kemudian memotong rambut minimal 3 helai untuk wanita disebut juga tahalull dimana berarti sudah dihalalkanya larangan selama ihram..
Keesokan harinya acara bebas, aku dan ibuku banyak menghabiskan waktu di Masjidil haram, Aku bertemu dengan saudara-saudaraku dari berbagai belahan dunia lain.. Rabb.. senangnya bertemu dengan saudara seiman dari belahan dunia lain,, tak henti-hentinya pula aku mengagumi kecantikan saudara Ku entah dari tanah haram ini atau dari belahan lain, Mesir, subhanallah mereka tetap menutupi aurat mereka dengan cadar.. betapa banyak orang yang berpenampilan biasa tetapi aurat mereka diumbar, aurat dan wajah mereka di eksploitasi demi kepopuleran, harta, demi pemuasan terhadap nafsu yang selalu dihembuskan oleh setan... aku salah satunya.. Rabb maafkan kejahilan kami...
Keesokan harinya kami city tour kota Mekah, kami ke Jabal Tsur kemudian dilanjutkan ke Jabal Al-Rahmah, tempat peretemuan antara Adam dan Hawa setelah dikeluarkan dari surga, kemudian mereka berdoa” Rabbana dzholamna angfusana wa ilam tagfirlana watarhamna lanakunanna minal khosiriin..ya Allah kami telah menzalimi diri sendiri, jika Engkau taak mengampuni, niscaya kami orang yang merugi... namun kebanyakan orang datang kesana berdoa masalah jodoh.. bahkan didinding jabal Rahmah banyak bertuliskan nama-nama pasangan,, Aku yakin asalkan doa kita tulus ikhlas Allah akan mengabulkannya, tak perlu harus mengotori kesucian jabal Rahmah dengan tinta bertulikan nama kita dan pasangan, bahkan kalau itu ternyata nama pasangan orang yang pacaran,, Ya Allah, bahkan Allah pun mengharamkan pacaran, tak selayaknya kita membanggakan pacar kita dihadapanNya, dengan menuliskan namanya , padahal belum tentu ia yang terbaik bagi kita,, serahkanlah semuaNya pada Allah,, Berdoa seperti yang tertera pada surat cinta-Nya Q.S Al Furqan Rabb berilah kami pasangan yang mampu menjadi imam bagi kami , dan menyenangkan pandangan kami...Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Masji Jiro’an dimanadi masjid ini Rasulullah melakukan Miqad untuk umrah, kami pun melakukan miqod disini, dan sepulangnya dari sini kami umrah kedua , dimana di umrah ini qt boleh menghadiahkannya untuk orang lain yang telah meninggal atau dalam kondisi kesehatan yang sudah tidak mungkin untuk umrah, dapat juga umtuk diri sendiri, karena Rasulullah pun melakukan haji sekali dan umrah berkali-kali..
Di Tanah Haram madinah...
Orang-orang di Madinah terlihat lebih lunak dibandingkan dengan orang-orang di Mekah, hal ini mungkin dikarenakan penduduk Mekah berasal dari bangsa Quraisy yang awal mulanya hanya sedikit yang menerima dakwah Rasulullah bahkan lebih banyak yang memusuhi Rasulullah, menyakiti, menganggap Rasulullah tukang tenung bahkan orang gila... Hingga Rasulullah hijrah ke Madinah, dimana penduduk Madinah menyambut dengan sangat baik kedatangan Rasulullah, merekalah kaum Anshar... yang insyaAllah dimuliakan Allah...
Alhamdulillah hotel yang aku tempati hanya berjarak kurang lebih 50 meter dari Masjid Nabawi, di Masjid ini sholat kita bernilai 1000 kali dibandingkan sholat di Masjid lain. Alhamdulillah suhu di kota ini lebih rendah dibandingkan di Mekah, namun tetap diatas 40 C tentunya.. Ingin rasanya aku menutup muka aku karena panas yang menyengat wajahku, namun aku teringat sewaktu Rasulullah datang kekota Madinah, Rasulullah membuka penutup kain diwajahnya, karena debu kota madinah bersifat menyembuhkan...Rabb betapa banyak keajaiban dikota ini ya Allah, kota yang dicintai Rasulullah, kota terbaik di dunia ini.. bahkan Rasulullah pun meminta dimakamkan dikota tercinta ini, dalam suatu hadits juga diriwayatkan jika kita berharap meninggal dikota Madinah dan benar terjadi, InsyaAllah sama dengan orang yang mati syahid... Allahuakbar!!!
Majid Nabawi sungguh sama indahnya dengan Masjidil Haram, disini antara ikhwan dan akhwat dipisahkan oleh hijab yang terbuat dari kayu tebal yang besar dan tinggi sehingga tidak terlihat jamaah ikhwan, mabit disini terasa lebih nyaman dibandingkan dengan di Masjidil Haram... Ingin rasanyamengabadikan gambar didalam masjid nabawi ini, mengabadikan adzan, bacaan Qur’an imam masjid Nabawi namun disini kamera serta handphone yang memiliki kamera tidak boleh dibawa masuk.. mungkin karena mulianya masjid ini dimana didalamnya terdapat makam Rasulullah, rumah Rasulullah, banyak jamaah yang berusaha menyembunyikan handphone yang mereka bawa, tapi aku yakin pasti banyak kebaikan yang didapat dari peraturan ini,, tak berapa lama aku mendengar jamaah yang kehilangan handphone berkameranya di dalam Masjid ini ... Allahuakbar!!!
Keesokan harinya kami ke Raudah yaitu tempat yang ditunjuk Rasulullah sebagai taman surga, dimana disini merupakan tempat yang diijabah oleh Allah. Sebagaimana surga, apa yang kita minta pasti akan dikabulkan oleh Allah... Rabb-Ku izinkan aku memasuki surga-Mu kelak.. Amiin.. Disini kita masuk secara bergantian , dan setiap orang diatur berdasarkan negara asal, untuk memudahkan, kami orang Indonesia bergabung dengan rumpum melayu lainnya yaitu andalusia. Kata Ustadzah yang membimbing kita agar rasa kepeduliannya kuat apabila satu rumpun, dapat saling membantu memudahkan qt berdoa disana. Karena banyaknya jamaah yang ingin datang, maka kita disarankan untuk sholat mutlak 2 rakaat, berdoa sebaiknya ketika sujud dalam shalat dan ketika setelah tahiyat akhir dan sebelum salam, hal ini dikarenakan apabila kita berdoa setelah sholat, akan segera disuruh keluar oleh askarnya untuk bergantian dengan yang lain, karena dianggap kita telah selesai, bahkan untuk yang sedang haid pun disuruh sujud, agar askarnya mengira kita sedang sholat, jadi tidak segera disuruh keluar, walaupun sebaiknya kita juga tidak terlalu lama disana, untuk memberikan kesempatan kepada yang lain. Selepas dari Raudah dilanjutkan dengan tawaf dan melontar , tapi bukan tawaf di ka’bah karena kita sudah wada’ disana, jadi haram untuk masuk kembali , jadinya kita tawaf deh di toko-toko,, hehe dan bukan jumrah yang dilempar, melainkan real,, hehe,, candaan ibu-ibu disana, makudnya si cari oleh-oleh,,
Keesokanya kita mengunjungi Masjid kuba , yaitu masjid yang pertama kali didirikan oleh Rasulullah diMadinah ketika beliau hijrah, dimana sholat disini 100 kali lebih tinggi dibandingkan dengan holat ditempat lain. Kemudian kita ke Masjid Qiblatain, tapi kita tidak turun hanya melihat dari bis, karena waktu yang singkat serta tidak adanya fadhillah sholat disini lebih baik dibandingkan sholat di tempat lain, padahal aku ingin sekali sholat disini, sholat dimana Rasulullah sholat, solat di tempat terjadinya pemindahan kiblat dari baitul Maqdis ke ka’bah.. Kemudian dilanjutkan ke Jabal Uhud, gunung ini berwarna kemerah-merahan, berbeda dengan gunung lainnya, tempat dimana terjadi peperangan antara Rasulullah dengan, dan saat itu kaum muslimin terbagi menjadi 2 antara muslim yang taat sepenuhnya denagan Allah dan Rasul-Nya dengan muslim yang munafik.. Darah-darah syuhada mengalir di gunung ini, gunung yang akan diperlihatkan Allah di surga.. gunung surga.. Indahnya... Kemudian kita menuju kebun kurma, pohon kurma mirip seperti dengan kelapa sawit kalau di Indonesia, Tanaman ini panen kalau musim panas, kebetulan kami datang ketika musim panas, terutama ketika ramadhan nanti, tanaman ini mengalami masa panen besar... Lalu dilanjutkan kepasar kurma, ternyata hanya seukurankurang lebih 10x7 meter, hehe.. disana menjual kurma dengan berbagai kualitas, cokelat, serta panganan khas Arab lainnya.
Keesokannya kita berangkat ke Jeddah, di Jeddah seperti kota-kota besar dibelahan dunia lainnya, mungkin karena letaknya dekat dengan bandara International King Abdul Aziz, disini kita dapat melihat wanita tidak berjilbab, dan berpakaian yang terbuka , karena tanah ini bukan tanah haram, orang non muslim boleh memasuki tanah Jeddah ini. Sebelum sampai hotel kami makan dulu di Asia Restaurant, yang mengherankan toko-toko disini sebagian besar pintu bagian depannya tertutup rapat, sehingga seolah-olah tutup, termasuk restaurant yang kemi singgahi, ternyata kami masuk lewat pintu kecil yang terletak disamping dan restaurant itu ternyata banyak pengunjungnya dengan cahaya lampu yang kurang terang.
Hotel yang kami tempati tidak jauh dari masjid Qishos, yaitu masjid tempat pelaksanaanya Qishos, yang diadakan setiap rabu dan Jumat. Dari jendela hotel kami dapat melihat masjid tersebut.. Ya Allah seandain ya hukum Qishos diberlakukan di Indonesia betapa banyak orang yang tidak memiliki tangan lagi, kematian meningkat, dan insyaAllah kejahatan akan menurun.. Ya Allah indahnya jika tidak ada lagi kejahatan di dunia ini...
Malam harinya kami ke Balad Cornest, tempat perbelanjaan di jeddah, yang berjarak kurang lebih 1 km dari hotel kami, kami mengunjungi toko AliMurah, sepertinya sih punya orang Indonesia, karena semua pegawainya dapat berbahasa Indonesia. Disini kami hanya berbelanja sedikit karena sudah jumrah penghabisan he.. yang sebelumnya sudah dilontar di Mekah dan madinah,, hehe
Keesokannya kami mengunjungi laut merah, Subhanallah indahnya di salah satu sisinya terletyak masjid terapung, masjid yang apabila laut merah pasang, pancang-pancangnya akan tertutupi oleh air laut dan seolah-olah masjid tersebut terapung. Padahal orang Arab sendiritidak mengenal masjid terapung, mereka mengenal masjid terapung dengan masjid Rahmah.
Setelah city tour di Kota Madinah kami langsung menuju Bandara King Abdul Aziz untuk kembali ketanah air, Ya Allah aku kangen tanah air, tapi aku tidak mau meninggalkan tanah haram Mekah dan Madinah ini, tempat dimana kita hanya mengenal ketaatan kepada Rabb-Nya, tanah yang hanya diperuntukan untuk orang-orang yang menghambakan dirinya hanya kepada Allah, Rabb semesta alam.
Kami harus transit dulu di Riyadh, dan menunggu satu jam dipesawat menunggu penumpang baru yang masuk, perjalanan pulang ini lebih lama dibandingkan ketika berangkat, yaitu hampir 12 jam, masya Allah.. Alhamdulillah kami selamat ketanah air setelah sempat sistem navigasi pesawat terganggu.. Alhamdulillah..
Nb.. Permohonan maaf ku yang amat sangat kepada seorang ibu TKI yang menitipkan tasnya kepadaku.. sungguh aq tidak ingin melalaikan amanah yang diberikan ibu... aq terpaksa harus segera meninggalkan bandara.. afwan jiddan ibu,, semoga qt bertemu disurga-Nya kelak...
Seperti Sang Pelangi Selepas Gerimis........
Sabtu, 15 Januari 2011
Menikah tanpa pacaran tidak realistis… ???
Banyak yang bilang mungkin ga sih nikah tanpa pacaran ?
Kaya membeli kucing dalam karung???
“Memangnya menunggu jodoh dari langit. Pacaran itu kan ikhtiar,”
Apa bedanya taaruf dengan pacaran?
Intinya kan sama aja... hmm..
Aneh...
Padahal pacaran dengan waktu lama sering dipenuhi oleh kepalsuan..
Sikap yang selalu manis, ga mau terlihat buruk dihadapan pasangan..
Belum tentu jodoh lagi, yang ada cuma kesia2an..
”ga juga kali, gue apa adanya....”
hmmm....
Taaruf yang dalam waktu singkat..
Dipertanyakan..
”Mungkin juga kali taaruf penuh kebohongan”
Mungkin aja kalo qt nanyanya ma orang sembarangan..
Mungkin aja kalo qt nanya sama seseorang yang objektif..
Hmm..
Padahal bukankah peluang kebohongan lebih lebar saat berduaan???
Bukankah Allah membantu mencondongkan hati kita
Dengan petunjuk-Nya
pada hamba-Nya yang ber-istikharah dengan sepenuh hati ikhlas
Mungkin ga ada yang mau merelakan pasangan tercintanya
ketika sekian lama pacaran,
kemudian memantapkan hati dengan shalat istikharah
Allah menjawabnya ”bukan”
Karena ikhtiar tidak harus menempuh jalan yang tidak diridhoi Allah..
awalnya aq ga yakin n bahkan teramat ga yakin ada ya orang2 seperti itu...
ternyata menjadi mungkin buat orang2 yang percaya akan keberkahan suatu pernikahan
tidak ditempuh dengan jalan kemaksiatan
dan kemashlahatan umat lebih mereka pentingkan..
Iseng baru baca sebuah blog gini isinya...
Dijalan Dakwah dia menikah...
Dalam memilih jodoh, dipilihkan pasangan hidup yang bernilai optimal bagi dakwah. Dalam menentukan siapa calon jodoh tersebut, dipertimbangkan pula kemaslahatan secara lebih luas. selain kriteria umum sebagaimana tuntunan fikih Islam,
pertimbangan lainnya adalah : apakah pemilihan jodoh ini memiliki implikasi kemaslahatan yang optimal bagi dakwah,
ataukah sekedar mendapatkan kemaslahatan bagi dirinya?
mari saya beri contoh berikut. diantara sekian banyak wanita muslimah yang telah memasuki usia siap menikah, mereka berbeda-beda jumlah bilangan usianya yang oleh karena itu berbeda pula tingkat kemendesakan untuk menikah. Beberapa orang bahkan sudah mencapai usia 35 tahun, sebagian yang lain antara 30 hingga 35 tahun, sebagian berusia 25 hingga 30, dan yang lainnya di bawah usia 25 tahun. Mereka semua ini siap menikah, siap menjalankan fungsinya dan peran sebagai isteri dan ibu di rumah tangga.
Anda adalah laki-laki muslim yang telah berniat melaksanakan pernikahan. Usia anda 25 tahun.
Anda dihadapkan pada realitas bahwa wanita muslimah yang sesuai kriteria fikih Islam untuk anda nikahi ada sekian banyak jumlahnya.
Maka siapakah yang lebih anda pilih, dan dengan pertimbangan apa anda memilih dia sebagai calon isteri anda?
Ternyata anda memilih si A, karena ia memiliki kriteria kebaikan agama, cantik, menarik, Pandai, dan usia masih muda, 20 tahun atau bahkan kurang dari itu. Apakah pilihan anda itu salah?
Demi Allah, pilihan anda ini tidak salah!
anda telah memilih calon isteri dengan benar karena berdasarkan kriteria kebaikan agama, dan memenuhi sunnah kenabian. Bukankah Rasulullah bertanya kepada Jabir ra :
“Mengapa tidak menikah dengan seorang gadis yang bisa engkau cumbu dan bisa mencumbuimu” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Dan inilah jawaban dakwah seorang Jabir ra,
“Wahai Rasulullah, saya memiliki saudara-saudara perempuan yang berjiwa keras, saya tidak mau membawa yang keras juga kepada mereka. janda ini saya harapkan mampu menyelesaikan permasalahan tersebut.” kata Jabir “benar katamu” jawab Nabi saw.
Jabir tidak hanya berfikir untuk kesenangan dirinya sendiri. Ia bisa memilih seorang gadis perawan yang cantik dan muda belia.
Namun ia memiliki kepekaan dakwah yang amat tinggi. kemaslahatan menikahi janda tersebut lebih tinggi dalam pandangan Jabir, dibandingkan dengan menikahi gadis perawan.
Nah, apabila semua laki-laki muslim berpikiran dan menentukan calon isterinya harus memiliki kecantikan ideal, berkulit putih, usia 5 tahun lebih muda dari dirinya, maka siapakah yang akan datang melamar para wanita muslimah yang usianya diatas 25 tahun, atau usia diatas 30 tahun atau bahkan diatas usia 35 tahun ?
Siapakah yang akan datang melamar para wanita muslimah yang dari segi fisik tidak cukup alasan untuk dikatakan sebagai cantik menurut ukuran umum?
mereka, wanita tadi adalah para muslimah yang melaksanakan ketaatan, mereka adalah wanita shalihah, menjaga kehormatan diri, bahkan mereka aktif terlibat dalam kegiatan dakwah dan sosial. Menurut anda, siapakah yang harus menikahi mereka?
Ah, mengapa pertanyaannya “harus” ? Dan mengapa pertanyaan ini hanya dibebankan kepada seseorang ? kita bisa saja mengabaikan dan melupakan realitas ini.
Jodoh ditangan Allah, kita tidak memiliki hak menentukan segala sesuatu, biarlah Allah memberikan keputusan agungNya. Bukan, bukan dalam konteks itu saya berbicara. Kita memang bisa melupakan mereka, dan tidak peduli dengan orang lain, tapi bukankah Islam tidak menghendaki kita berperilaku demikian?
Kendatipun nabi saw menganjurkan Jabir agar beristeri gadis, kita juga mengetahui bahwa hampir seluruh isteri Rasulullah adalah janda.
Kendatipun nabi saw. menyatakan agar Jabir beristeri gadis,
pada kenytaannya Jabir telah menikahi janda.
Demikian pula permintaan mahar Ummu Sulaim terhadap laki-laki yang datang melamarnya, Abu Thalhah. Mahar keislaman Abu Thalhah menyebabkan Ummu Sulaim menerima pinangannya. Inilah pilihan dakwah.
Inilah pernikahan barakah, membawa maslahat bagi dakwah.
Ini hanya satu contoh saja, bahwa dalam konteks pernikahan, hendaknya dikaitkan dengan proyek besar dakwah Islam. Jika kecantikan gadis harapan anda bernilai 100 poin, tidakkah anda bersedia menurunkan 20 atau 30 poin untuk bisa mendapatkan kebaikan dari segi yang lain? ketika pilihan itu membawa maslahat bagi dakwah, mengapa tidak ditempuh? Jika gadis harapan anda berusia 20 tahun, tidakkan anda bersedia sedikit memberikan toleransi dengan masalahat kepada wanita yang lebih mendesak untuk segera menikah disebabkan desakan usia? Jika anda adalah wanita muda usia, dan ditanya ? dalam konteks pernikahan ? oleh seorang lelaki yang sesuai kriteria harapan anda, mampukah anda mengatakan kepada dia, “saya memang telah siap menikah, akan tetapi si B sahabat saya, lebih mendesak untuk segera menikah”.
Atau kita telah sepakat untuk tidak mau melihat realitas itu, karena bukanlah tanggung jawab kita ? Ini urusan masing-masing.
Keberuntungan dan keidakberuntungan adalah soal takdir yang tidak berada di tangan kita.
Masya Allah, seribu dalil bisa kita gunakan untuk mengabsahkan pikiran individualistik kita.
Akan tetapi hendaknya kita ingat pesan kenabian berikut:
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam cinta, kasih sayang dan kelembutan hati mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh menderita sakit, terasakanlah sakit tersebut di seluruh tubuh hingga tidak bisa tidur dan panas” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Bisa jadi kebahagiaan pernikahan kita telah menyakitkan dan mengiris-ngiris hati beberapa orang lain. Setiap saat mereka mendapatkan undangan pernikahan, harus membaca, dan menghadiri dengan perasaan yang sedih, karena jodoh tak kunjung datang, sementara usia terus bertambah, dan kepercayaan diri semakin berkurang.
Disinilah perlunya kita berfikir tentang kemaslahatan dakwah dalam proses pernikahan muslim.
Referensi :http://blog.iqbalir.com/archives/2005/12/di-jalan-dakwah-aku-menikah/
Buku “Di Jalan Dakwah Aku Menikah“.
Oleh : Cahyadi Takariawan.
Kaya membeli kucing dalam karung???
“Memangnya menunggu jodoh dari langit. Pacaran itu kan ikhtiar,”
Apa bedanya taaruf dengan pacaran?
Intinya kan sama aja... hmm..
Aneh...
Padahal pacaran dengan waktu lama sering dipenuhi oleh kepalsuan..
Sikap yang selalu manis, ga mau terlihat buruk dihadapan pasangan..
Belum tentu jodoh lagi, yang ada cuma kesia2an..
”ga juga kali, gue apa adanya....”
hmmm.... Taaruf yang dalam waktu singkat..
Dipertanyakan..
”Mungkin juga kali taaruf penuh kebohongan”
Mungkin aja kalo qt nanyanya ma orang sembarangan..
Mungkin aja kalo qt nanya sama seseorang yang objektif..
Hmm..
Padahal bukankah peluang kebohongan lebih lebar saat berduaan???
Bukankah Allah membantu mencondongkan hati kita
Dengan petunjuk-Nya
pada hamba-Nya yang ber-istikharah dengan sepenuh hati ikhlas
Mungkin ga ada yang mau merelakan pasangan tercintanya
ketika sekian lama pacaran,
kemudian memantapkan hati dengan shalat istikharah
Allah menjawabnya ”bukan”
Karena ikhtiar tidak harus menempuh jalan yang tidak diridhoi Allah..
awalnya aq ga yakin n bahkan teramat ga yakin ada ya orang2 seperti itu...
ternyata menjadi mungkin buat orang2 yang percaya akan keberkahan suatu pernikahan
tidak ditempuh dengan jalan kemaksiatan
dan kemashlahatan umat lebih mereka pentingkan..
Iseng baru baca sebuah blog gini isinya...
Dijalan Dakwah dia menikah...
Dalam memilih jodoh, dipilihkan pasangan hidup yang bernilai optimal bagi dakwah. Dalam menentukan siapa calon jodoh tersebut, dipertimbangkan pula kemaslahatan secara lebih luas. selain kriteria umum sebagaimana tuntunan fikih Islam,
pertimbangan lainnya adalah : apakah pemilihan jodoh ini memiliki implikasi kemaslahatan yang optimal bagi dakwah,
ataukah sekedar mendapatkan kemaslahatan bagi dirinya?
mari saya beri contoh berikut. diantara sekian banyak wanita muslimah yang telah memasuki usia siap menikah, mereka berbeda-beda jumlah bilangan usianya yang oleh karena itu berbeda pula tingkat kemendesakan untuk menikah. Beberapa orang bahkan sudah mencapai usia 35 tahun, sebagian yang lain antara 30 hingga 35 tahun, sebagian berusia 25 hingga 30, dan yang lainnya di bawah usia 25 tahun. Mereka semua ini siap menikah, siap menjalankan fungsinya dan peran sebagai isteri dan ibu di rumah tangga.
Anda adalah laki-laki muslim yang telah berniat melaksanakan pernikahan. Usia anda 25 tahun.
Anda dihadapkan pada realitas bahwa wanita muslimah yang sesuai kriteria fikih Islam untuk anda nikahi ada sekian banyak jumlahnya.
Maka siapakah yang lebih anda pilih, dan dengan pertimbangan apa anda memilih dia sebagai calon isteri anda?
Ternyata anda memilih si A, karena ia memiliki kriteria kebaikan agama, cantik, menarik, Pandai, dan usia masih muda, 20 tahun atau bahkan kurang dari itu. Apakah pilihan anda itu salah?
Demi Allah, pilihan anda ini tidak salah!
anda telah memilih calon isteri dengan benar karena berdasarkan kriteria kebaikan agama, dan memenuhi sunnah kenabian. Bukankah Rasulullah bertanya kepada Jabir ra :
“Mengapa tidak menikah dengan seorang gadis yang bisa engkau cumbu dan bisa mencumbuimu” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Dan inilah jawaban dakwah seorang Jabir ra,
“Wahai Rasulullah, saya memiliki saudara-saudara perempuan yang berjiwa keras, saya tidak mau membawa yang keras juga kepada mereka. janda ini saya harapkan mampu menyelesaikan permasalahan tersebut.” kata Jabir “benar katamu” jawab Nabi saw.
Jabir tidak hanya berfikir untuk kesenangan dirinya sendiri. Ia bisa memilih seorang gadis perawan yang cantik dan muda belia.
Namun ia memiliki kepekaan dakwah yang amat tinggi. kemaslahatan menikahi janda tersebut lebih tinggi dalam pandangan Jabir, dibandingkan dengan menikahi gadis perawan.
Nah, apabila semua laki-laki muslim berpikiran dan menentukan calon isterinya harus memiliki kecantikan ideal, berkulit putih, usia 5 tahun lebih muda dari dirinya, maka siapakah yang akan datang melamar para wanita muslimah yang usianya diatas 25 tahun, atau usia diatas 30 tahun atau bahkan diatas usia 35 tahun ?
Siapakah yang akan datang melamar para wanita muslimah yang dari segi fisik tidak cukup alasan untuk dikatakan sebagai cantik menurut ukuran umum?
mereka, wanita tadi adalah para muslimah yang melaksanakan ketaatan, mereka adalah wanita shalihah, menjaga kehormatan diri, bahkan mereka aktif terlibat dalam kegiatan dakwah dan sosial. Menurut anda, siapakah yang harus menikahi mereka?
Ah, mengapa pertanyaannya “harus” ? Dan mengapa pertanyaan ini hanya dibebankan kepada seseorang ? kita bisa saja mengabaikan dan melupakan realitas ini.
Jodoh ditangan Allah, kita tidak memiliki hak menentukan segala sesuatu, biarlah Allah memberikan keputusan agungNya. Bukan, bukan dalam konteks itu saya berbicara. Kita memang bisa melupakan mereka, dan tidak peduli dengan orang lain, tapi bukankah Islam tidak menghendaki kita berperilaku demikian?
Kendatipun nabi saw menganjurkan Jabir agar beristeri gadis, kita juga mengetahui bahwa hampir seluruh isteri Rasulullah adalah janda.
Kendatipun nabi saw. menyatakan agar Jabir beristeri gadis,
pada kenytaannya Jabir telah menikahi janda.
Demikian pula permintaan mahar Ummu Sulaim terhadap laki-laki yang datang melamarnya, Abu Thalhah. Mahar keislaman Abu Thalhah menyebabkan Ummu Sulaim menerima pinangannya. Inilah pilihan dakwah.
Inilah pernikahan barakah, membawa maslahat bagi dakwah.
Ini hanya satu contoh saja, bahwa dalam konteks pernikahan, hendaknya dikaitkan dengan proyek besar dakwah Islam. Jika kecantikan gadis harapan anda bernilai 100 poin, tidakkah anda bersedia menurunkan 20 atau 30 poin untuk bisa mendapatkan kebaikan dari segi yang lain? ketika pilihan itu membawa maslahat bagi dakwah, mengapa tidak ditempuh? Jika gadis harapan anda berusia 20 tahun, tidakkan anda bersedia sedikit memberikan toleransi dengan masalahat kepada wanita yang lebih mendesak untuk segera menikah disebabkan desakan usia? Jika anda adalah wanita muda usia, dan ditanya ? dalam konteks pernikahan ? oleh seorang lelaki yang sesuai kriteria harapan anda, mampukah anda mengatakan kepada dia, “saya memang telah siap menikah, akan tetapi si B sahabat saya, lebih mendesak untuk segera menikah”.
Atau kita telah sepakat untuk tidak mau melihat realitas itu, karena bukanlah tanggung jawab kita ? Ini urusan masing-masing.
Keberuntungan dan keidakberuntungan adalah soal takdir yang tidak berada di tangan kita.
Masya Allah, seribu dalil bisa kita gunakan untuk mengabsahkan pikiran individualistik kita.
Akan tetapi hendaknya kita ingat pesan kenabian berikut:
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam cinta, kasih sayang dan kelembutan hati mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh menderita sakit, terasakanlah sakit tersebut di seluruh tubuh hingga tidak bisa tidur dan panas” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Bisa jadi kebahagiaan pernikahan kita telah menyakitkan dan mengiris-ngiris hati beberapa orang lain. Setiap saat mereka mendapatkan undangan pernikahan, harus membaca, dan menghadiri dengan perasaan yang sedih, karena jodoh tak kunjung datang, sementara usia terus bertambah, dan kepercayaan diri semakin berkurang.
Disinilah perlunya kita berfikir tentang kemaslahatan dakwah dalam proses pernikahan muslim.
Referensi :http://blog.iqbalir.com/archives/2005/12/di-jalan-dakwah-aku-menikah/
Buku “Di Jalan Dakwah Aku Menikah“.
Oleh : Cahyadi Takariawan.
MUDAHNYA MENCAP SESEORANG “MUNAFIK”
Tiba2 teringat kisah seorang teman, laki2,-pen.
Yang ketika itu ia disodori dengan gambar, maaf, berbau “pornografi”
Namun yang ia lakukan memalingkan wajah dan menolaknya..
Teman yang menyodorkan kala itu mencapnya sebagai “cowok munafik”
Teringat juga diinfotainment kisah seorang istri yang mau dipoligami oleh suaminya..
Dan sang istri menerimanya seraya berkata bahwa ini ujian keikhlasan untuk dirinya..
Namun miris mendengar orang-orang yang dengan mudahnya berkomentar
“istri itu munafik, sebenarnya dia juga ga rela kaleee.. “
Astagfirullah.. Mudah-mudahan Allah memaafkan mereka..

Begitu mudahnya seseorang mencap orang lain munafik
Justru terhadap orang yang setia pada iman..
Seseorang yang berusaha teguh atas keyakinannya..
Seseorang yang menafikan hawa nafsunya karena malu pada Rabb-Nya..
MIRIS!!!
Lalu disebut apa orang yang setia terhadap hawa nafsunya,
Mengabaikan hati nurani serta rasa malunya..
Padahal syahadat telah diikrarkan..
Sholat telah ditegakan..
Sumpah setia pada Rabb-Nya diabaikan..
-Orang yang setia kepada rasa malu, adalah cermin dari keimanannya-
**terinspirasi dari beberapa sumber
Yang ketika itu ia disodori dengan gambar, maaf, berbau “pornografi”
Namun yang ia lakukan memalingkan wajah dan menolaknya..
Teman yang menyodorkan kala itu mencapnya sebagai “cowok munafik”
Teringat juga diinfotainment kisah seorang istri yang mau dipoligami oleh suaminya..
Dan sang istri menerimanya seraya berkata bahwa ini ujian keikhlasan untuk dirinya..
Namun miris mendengar orang-orang yang dengan mudahnya berkomentar
“istri itu munafik, sebenarnya dia juga ga rela kaleee.. “
Astagfirullah.. Mudah-mudahan Allah memaafkan mereka..

Begitu mudahnya seseorang mencap orang lain munafik
Justru terhadap orang yang setia pada iman..
Seseorang yang berusaha teguh atas keyakinannya..
Seseorang yang menafikan hawa nafsunya karena malu pada Rabb-Nya..
MIRIS!!!
Lalu disebut apa orang yang setia terhadap hawa nafsunya,
Mengabaikan hati nurani serta rasa malunya..
Padahal syahadat telah diikrarkan..
Sholat telah ditegakan..
Sumpah setia pada Rabb-Nya diabaikan..
-Orang yang setia kepada rasa malu, adalah cermin dari keimanannya-
**terinspirasi dari beberapa sumber
Langganan:
Postingan (Atom)
Blog Design by Gisele Jaquenod
